Ini alasan mengapa sebaiknya perceraian tidak membuat Anda trauma memulai sebuah hubungan lagi

Perceraian dapat menimbulkan luka dalam yang membuat orang jera untuk memulai sebuah hubungan baru. Bagaimana mengatasinya?

Irma Shalimar

Perceraian dapat menimbulkan luka dalam yang membuat orang jera untuk memulai sebuah hubungan baru. Bagaimana mengatasinya? Sebaiknya Anda tidak berkubang dalam kesedihan dan penderitaan Anda yang diakibatkan perceraian itu. Betapa pun sengsaranya perasaan di hati, Anda harus tetap membangun dan membina hubungan baru yang akan merapatkan luka Anda. Sebagian orang justru terburu-buru mencari orang lain untuk menyembuhkan lukanya. Ini juga keliru karena kemungkinan orang itu bukan orang yang tepat bagi Anda, sebaliknya mungkin hanya akibat dari "rebound love". Anda hanya mengira mencintai orang itu, kenyataannya Anda hanya ingin mengobati luka hati Anda.

Saya mengenal seseorang yang ketika ditinggalkan istrinya, dia merasa dunia sudah runtuh. Pengalamannya membuat dia syok berat dan sangat sedih. Mereka memang mengalami cobaan dalam hubungan pasutri mereka akibat ada pria yang lain. Namun si suami tidak menyangka bahwa istrinya tega berbuat seperti itu. Suatu hari sepulang kerja, dia tidak menemukan anak istrinya menyambut seperti biasanya. Kemudian dia melihat cincin kawin yang biasanya melekat di jari istrinya ditinggalkan di atas meja makan. Seketika itu dia merasa dirinya seperti ditabrak kereta api. Dia tidak tahu ke mana mereka pergi, padahal dia teramat sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Akhirnya sesudah beberapa lama si istri memberitahu bahwa mereka tinggal bersama orangtuanya yang baru saja pindah ke tempat yang lain.

Selama dua tahun si suami berusaha membujuk istrinya agar kembali kepadanya. Dia merasa sangat tersiksa karena tidak dapat melihat anak-anaknya setiap hari. Bila air matanya ditampung mungkin dapat memenuhi sebuah kolam renang yang kosong. Dia hanya dapat bertemu anak-anaknya sekali sepekan, ketika mereka tidak bersekolah. Ini merupakan siksaan baginya, karena anak-anak yang masih kecil dan tidak bersalah itu, kurang memahami mengapa orangtua mereka tidak lagi tinggal serumah. Bila dia mengajak anak-anak itu makan di luar, anak yang agak besar akan berkata, "Kita dulu sering makan di sini bersama mama." Bagaimana perasaan pria yang bertampang tangguh namun berhati lembut ini tidak trenyuh?

Menjelang hari Natal yang mereka lewatkan bersama si suami merasa mendapat pengharapan bahwa istrinya akan kembali. Namun sayang, ternyata pengharapan itu kosong, si istri berkata bahwa sudah ada pria lain di hatinya. Menghadapi kenyataan pahit itu si pria berkata bahwa sebaiknya mereka bercerai saja. Sesudah perceraiannya, si suami menyibukkan diri dengan pekerjaan dan kebersamaannya dengan anak-anaknya di akhir pekan. Beberapa kali dia mencoba untuk menjalin hubungan dengan wanita lain, namun selalu gagal. Akhirnya sesudah setahun bercerai dia bertemu dengan seorang wanita yang baik, cantik dan sangat mencintainya. Barulah dia merasa terhibur karena menemukan pendamping baru yang mencintai anak-anaknya juga.

Dalam traumanya si suami tidak mengucilkan diri, namun membuka hatinya untuk berkenalan dengan orang lain. Tidak saja wanita, namun juga pria yang mau memahami keadaannya dan banyak memberinya nasihat serta penghiburan. Dia juga banyak mendekatkan diri kepada Tuhan untuk memperoleh kekuatan. Orangtua, saudara dan teman-teman banyak menolongnya supaya dia tidak putus asa dan bersabar. Dia juga sibuk membina karirnya sehingga sukses. Ketika akhirnya dia menikah lagi dia sadar bahwa masih ada orang yang mau mencintainya dan mengarungi bahtera hidup ini bersamanya.

Irma Shalimar

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through